PERANAN MANDAU DALAM SENI KRIYA LOGAM DAN
PARIWISATA
Latar Belakang
Dayak merupakan nama kolektif untuk kelompok suku asli di Kalimantan, yang sebagian besar menghuni daerah pedalaman. Daerah hilir atau daerah pantai yang mengitari mereka dihuni oleh orang Melayu, Banjar, Bugis, Jawa, Madura, Cina dan lain-lain.
Mereka menyebut dirinya dengan kelompok yang berasal dari suatu daerah berdasarkan nama sungai, nama pahlawan, nama alam dan sebagainya. Misalnya suku Iban asal katanya dari ivan (dalam bahasa kayan, ivan = pengembara) demikian juga menurut sumber yang lainnya bahwa mereka menyebut dirinya dengan nama suku Batang Lupar, karena berasal dari sungai Batang Lupar, daerah perbatasan Kalimantan Barat dengan Serawak, Malaysia. Suku Mualang, diambil dari nama seorang tokoh yang disegani (Manok Sabung/algojo) di Tampun Juah dan nama tersebut diabadikan menjadi sebuah nama anak sungai Ketungau di daerah Kabupaten Sintang (karena suatu peristiwa) dan kemudian dijadikan nama suku Dayak Mualang. Dayak Bukit (Kanayatn/Ahe) berasal dari Bukit/gunung Bawang. Demikian juga asal usul Dayak Kayan, Kantuk, Tamambaloh, Kenyah, Benuag, Ngaju dan lain-lain, yang mempunyai latar belakang sejarah sendiri-sendiri.
Suku Dayak mempunyai ciri dalam tradisi dan budayanya, salah satu yang paling terkenal adalah tradisi Mengayau (memengal kepala). Dalam tradisi ini, senjata yang digunakan secara kolektif yang ditemukan pada hampir seluruh sub suku Dayak adalah Mandau. Mandau adalah salah satu senjata yang berbentuk parang panjang yang ditempa secara tradisional dan memiliki ukiran-ukiran dibagian bilah yang tidak tajam.